Kehilangan Rumah dan Usaha, Keluarga di Pidie Jaya Bangkit dari Huntara

Sebelum dipindahkan ke huntara, mereka sempat tinggal di tenda pengungsian yang berada di pinggir jalan.
Penulis: Tim copywriter - Minggu, 15 Maret 2026
Yuliana, penyintas bencana hidrometeorologi yang kini menempati Huntara Manyang Lancok, Pidie Jaya, Aceh
Yuliana, penyintas bencana hidrometeorologi yang kini menempati Huntara Manyang Lancok, Pidie Jaya, Aceh


 
Di tengah menjalani kehidupan di hunian sementara (huntara), semangat untuk bangkit tetap terlihat dari para penyintas bencana di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Salah satunya Yuliana, warga Dusun Meunasah Krueng, Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, yang kini tinggal bersama keluarganya di huntara setelah rumahnya hanyut terbawa arus banjir.

Yuliana mengungkapkan, ia bersama suami dan tiga anaknya sudah hampir sebulan menempati hunian sementara tersebut. Sebelum dipindahkan ke huntara, mereka sempat tinggal di tenda pengungsian yang berada di pinggir jalan.

“Sebelum puasa kami sudah tinggal di sini, sudah hampir sebulan. Sebelumnya kami tinggal di tenda pengungsian, di sana banyak debu karena dekat jalan. Kalau di sini sudah lebih baik, tidak berdebu lagi,” ujar Yuliana, saat diwawancara di Huntara Manyang Lancok, Kec. Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Kamis (12/3/2026).

Banjir yang melanda wilayahnya tidak hanya merusak rumah, tetapi juga menghilangkan sumber penghidupan keluarga. Rumah yang sekaligus menjadi tempat usaha kecilnya ikut hanyut terbawa arus.

“Rumah saya memang sudah tidak ada lagi, semuanya hanyut. Barang-barang habis semua. Saya juga jualan kelontong di depan rumah, kami tinggal di belakang. Semua terbawa arus, tidak ada yang tersisa,” katanya.

Meski tinggal di huntara, Yuliana mengaku bersyukur karena setidaknya keluarganya kini memiliki tempat tinggal yang lebih layak dibandingkan tenda pengungsian sebelumnya.

Ia mengungkapkan, suasana di huntara memang berbeda dengan kampung halaman mereka. Saat siang hari terasa panas, sementara malam hari menjadi cukup dingin dan terkadang ramai oleh aktivitas anak-anak.

“Kalau siang memang panas, berbeda dengan di kampung kami yang lebih sejuk. Tapi kami tetap bersyukur, setidaknya sudah ada tempat untuk berteduh,” ujarnya.

Saat ini, keluarga Yuliana harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Bantuan yang tersedia di huntara umumnya berupa tempat tinggal dan fasilitas dasar, sementara kebutuhan makanan sering kali harus diupayakan sendiri.

“Kalau tinggal di sini, lauk pauk kami cari sendiri. Kadang ada juga bantuan dari pemerintah atau yang datang melihat kondisi kami. Karena sekarang penghasilan memang sudah tidak ada lagi, usaha kami sudah hanyut semua,” ungkapnya.

Di tengah situasi tersebut, harapan terbesar Yuliana adalah segera bisa kembali tinggal di kampung dengan rumah permanen melalui program hunian tetap (huntap) yang telah direncanakan pemerintah bagi warga dengan kategori rumah rusak berat.

“Kami yang rumahnya rusak berat akan mendapat rumah huntap. Lokasinya sudah diberitahukan. Ada yang memilih tanah sendiri, ada juga yang di tanah pemerintah,” jelasnya.

Bagi Yuliana dan warga lainnya, kehadiran huntap bukan sekadar tempat tinggal baru, tetapi juga simbol harapan untuk memulai kembali kehidupan yang sempat terhenti akibat bencana.

“Kami berharap bisa segera kembali tinggal di kampung sendiri. Itu yang paling kami tunggu sekarang,” katanya.

Meski kehilangan banyak hal, semangat Yuliana dan keluarganya menunjukkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. Dari hunian sementara yang sederhana, mereka terus menata harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Editor:

Tim Copywriter untuk website daerah Alinea Tek Nusantara

Scroll