Ahli Bicara Kapan Covid-19 Jadi Penyakit Biasa

Kalau Covid-19 terus bermutasi melahirkan varian baru dan mengurangi efikasi vaksin.
Selasa, 09 Agst 2022 12:43 WIB Author - Hermansah

Varian baru Covid-19 terus bermunculan. Saat ini, varian yang sedang menular di publik adalah BA.4, BA.5 dan BA.275. Kalau terus bermutasi, lantas kapan Covid-19 berakhir?

Epidemiolog dan peneliti dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan Indonesia masih berada di gelombang empat Covid-19 yang puncaknya mungkin akhir Agustus atau September. Menurut Dicky, pergerakan menuju puncak Covid-19 varian BA.5 lebih lamban karena virus melalui orang yang sudah memiliki imunitas.

Masa rawan kita, saya prediksi sampai Oktober. Bukan berarti banyak kematian. Tapi kalau kita lemah testing, tracing, dan treatment (3 T), mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas (5 M), serta vaksinasi, pada gilirannya akan memakan jiwa kelompok paling rawan, seperti lansia, tenaga kesehatan, komorbid, ibu hamil dan anak. Di Indonesia kelompok rawan banyak, karena jumlah penduduk kita besar. Ini harus disadari semua pihak, kata Dicky.

Dicky mengatakan dengan adanya varian BA.275, kita harus mewaspadai dan mengamati dampak yang hadir di tengah gelombang empat. Menurut dia, BA.275 belum menggeser dominasi BA.5. Setidaknya 2% dari yang dites Covid-91 harus menjadi genome sequencing.

Melihat virus yang terus bermutasi, Dicky mengakui sulit mengatakan kapan Covid-19 akan jadi penyakit biasa. Menurut dia, ada banyak yang mempengaruhi peralihan Covid-19 jadi penyakit biasa, antara lain stigma, obat, karakter dan sifat virus. Dahulu, demam typoid amat ditakuti, namun stigma itu kemudian berubah.

Baca juga :