Pengamat Nilai Suahasil Tepat Dampingi Sri Mulyani

Pengamat Nilai Suahasil Tepat Dampingi Sri Mulyani Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (22/10/2019). Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kanan) usai bertemu Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25/10/2019). (Foto&keterangan: Antara Foto).

JEMBER - Pengamat ekonomi Universitas Jember, Adhitya Wardhono, PhD., berharap duet Menteri Keuangan Sri Mulyani dan wakilnya Suahasil Nazara, mampu memperbaiki perekonomian Indonesia di tengah tekanan ekonomi global.

"Terpilihnya Suahasil cukup mengagetkan dan di luar dugaan karena menyandingkan Sri Mulyani dan Suahasil jauh dari perkiraan publik, namun bagi Suahasil, bidang keuangan negara adalah bidang yang digeluti sehari-hari," katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (26/10).

Menurut Adhitya, Sri Mulyani memang butuh pendamping untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi, melalui strategi fiskal yang jitu. Juga otoritas fiskal perlu diperkuat, untuk bareng melaju seiring dengan otoritas moneter (BI) mengejar target-target ekonomi.

"Suahasil mengomandani Badan Kebijakan Fiskal (BKF) yakni sebuah lembaga think tank kajian kebijakan fiskal yang sepi dan jauh dari hiruk pikuk pemberitaan, meski satu atap dibawah Kementerian Keuangan," ungkapnya.

Menurut Adhitya, BKF dipimpin oleh Suahasil menjadi institusi penting yang menjadi tumpuan pencapaian visi Kementerian Keuangan, dengan kontribusinya berupa riset dan kajian yang mendukung pengambilan keputusan keuangan negara. Sehingga, sangat akrab dengan domain-domian keuangan negara yang ingin didorong lebih kuat oleh pemerintah.

"Menyandingkan Sri Mulyani dan Suahasil, layaknya mempertemukan dua akademikus Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia dengan pengalaman dan keahlian yang saling melengkapi, serta saling menutupi kekurangan masing-masing," ucap dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Unej itu.

Ia mengatakan, keduanya tidak akan lama menemukan chemistry yang tepat untuk merumuskan visi Presiden Jokowi di sektor keuangan negara, kemudian mempertajam kebijakan ekonomi. Khususnya merapikan produk kebijakan dan regulasi ekonomi dalam negeri menghadapi tekanan global.

"Tantangan ekonomi jangka pendek yang berat diperlukan dukungan sektor fiskal yang kuat, seperti cepat menerjemahkan pergeseran paradigma tentang perpajakan global yang sedang bergerak dari aspek optimalisasi pendapatan menuju stimulus fiskal," jelas Adhitya.

Adhitya mengatakan, hal itu tentu perlu menjadi perhatian Kemenkeu dan jajarannya dalam mengalokasikan keuangan negara, untuk ultimate goal presiden yaitu peningkatan SDM menuju Indonesia maju.

"Sri Mulyani dan Suahasil dibebani agenda ekonomi domestik lainnya seperti memperbaiki upaya percepat investasi, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pertumbuhan ekonomi, sehingga presiden sangat berharap duet itu dapat mengakselerasi ekonomi Indonesia untuk berhadapan lebih tegak melawan ekonomi global," paparnya.

Sebagai wakil Menkeu, lanjut dia, Suahasil memiliki ruang gerak yang lebih dekat untuk mengimplementasikan hasil kajian, dibanding ketika di BKF. 

Misalkan, dalam implementasi instrumen pendapatan dan penerimaan negara, manajemen utang, mitigasi risiko fiskal pemerintah baik pusat maupun negara. Bahkan, menguliti peluang strategi peningkatan ekspor nonmigas untuk menambal defisit.

"Sri Mulyani dan Suahasil diharapkan menjadi duet maut menghadapi tantangan ekonomi Indonesia dan gejolak global yang bulan-bulan kedepan semakin tidak menentu," pungkasnya. (Ant).